Banyak yang mengira kultur jaringan adalah bisnis mahal yang hanya bisa dijalankan oleh mereka yang memiliki modal banyak. investasi profesional pada usaha ini memang bisa mencapai milyaran rupiah. Tapi taukah Anda jika usaha kultur jaringan juga bisa dijalankan dengan modal kurang dari 10 juta rupiah?

Usaha Kultur Jaringan Anggrek Hasil Kultur
Plantlet Anggek Hasil Kultur Jaringan

Zona Bisnis BUNDA.co – Sebelum masuk pada modifikasi alat, lebih dulu kita perlu mengenal dua alat utama dalam kultur jaringan.

Autoclave. Panci pemanas yang bisa diatur suhu dan tekanan, digunakan untuk memanaskan media dan alat tanam. Autoclave merek All American harganya lebih dari 20 juta rupiah.

Laminar Air Flow (LAF) atau meja kerja steril untuk memasukkan bahan tanam ke media steril. Harganyapun belasan juta rupiah.

Selain dua di atas, jika ingin mencari peralatan mahal, masih ada mikropipet, timbangan analytic, dan masih banyak lagi. Ohya, untuk media tumbuh, Anda bisa menggunakan media MS/VW dengan harga yang lumayan mahal.

 

Modal Kecil pada Usaha Kultur Jaringan Rumah Tangga

Kultur jaringan skala rumah tangga tak harus menyiapkan ratusa juga rupiah. Bahkan dengan dana kurang dari 10 juta rupiah, bisnis ini bisa berjalan. Salah satu tanaman yang paling populer dalam bisnis kultur adalah anggrek bulan. Kultur anggrek bulan dengan biji sangatlah mudah. Dalam satu kali penanaman kita bisa mendapatkan ribuan protocorm dan planlet.

Autoclave Vs Presto

Gambar Foto Jual Lingerie Murah Import Indonesia

Sterilisasi tidak harus menggunakan autoclave yang harganya mahal. Anda bisa membeli presto yang hanya ratusan ribu rupiah. Tidak perlu bingung, presto yang Saya maksud adalah presto yang biasa dipakai untuk memasak bandeng atau daging agar lebih empuk. Malah tak harus presto baru, presto lama yang masih berfungsi normalpun bisa dipakai.

Adapun mengenai tekniknya, akan cukup panjang jika Saya jelaskan di sini. Pastinya, tidaklah sulit. Perbedaan utamanya ada 2 yakni waktu sterilisasi dengan presto lebih lama dan kapasitas sterilisasi lebih sedikit. Untuk usaha rumah tangga yang masih produksi skala kecil tentu bukan masalah.

Sterilisasi menggunakan presto juga tak kalah efektif. Dalam berbagai kesempatan saat Saya menggunakan presto untuk sterilisasi media tanam, tingkat keberhasilannya sama baiknya dengan menggunakan autoclave.

 

Laminar Air Flow (LAF) Vs Entkas

LAF merupakan meja kerja steril yang digunakan untuk penanaman eksplan. Info lebih detail mengenai LAF dan penanaman bisa dilihat di buku kultur, salah satu buku acuan lengkapnya Teknik Kultur In Vitro dalam Holtikuktura karya Ibu Gunawan LW.

Kembali ke modifikasi alat kultur, fungsi LAF bisa digantian dengan Entkas. Komponen utama LAF adalah sinar UV dan semburan udara steril dari dalam keluar untuk mencegah masukkan udara dari luar yang berpotensi mengontaminasi.

Entkas memang tidak bisa menyemburkan udara keluar. Namun dengan penanaman yang hati-hati, Saya dan beberapa rekan di laboratorium berhasil melakukan kultur beberapa tanaman dengan Entkas.

Jadi, sama sekali bukan alasan tepat jika mengatakan bahwa menanam dengan Entkas keberhasilannya rendah. Seperti banyak hal, tingkat keberhasilan kultur jaringan juga ditentukan oleh seringnya berlatih.

Kontaminasi adalah hal yang biasa dalam kultur, terutama saat mencoba teknik sterilisasi pada eksplan baru. Selama dilakukan sesuai prosedur, penggunaan Entkas bukanlah masalah.

Jika LAF harganya mencapai belasan hingga puluhan juta, waktu Saya membuat Entkas sendiri pada 2012 lalu, hanya habis dana sekitar 300 ribu rupiah.

 

Rak Inkubasi

Setelah eksplan di tanam di Entkas, tahap selanjutnya adalah meyimpan di ruangan inkubasi. Ruang inkubasi di laboratorium umumnya memakai rak besi di mana satu rak harganya 1,5 – 2 juta rupiah.

Rak besi bisa diganti dengan rak kayu yang harganya jauh lebih murah. Rak kayu bisa dibuat sendiri, tentu ukuran sesuai standart rak kultur.

Pada rak inkubasi terdapat lampu yang berfungsi sebagai sumber cahaya bagi tanaman, untuk menghemat energy, kita bisa membuka kaca saat pagi dan siang hari sehingga tanaman mendapatkan cahaya matahari.

Akan sangat panjang jika harus diulas detail penggunaan dan cara modifikasi alat kultur. Perlu diingat adalah, keberhasilan kultur jaringan sangat ditentukan oleh keseriusan dan seringnya mencoba. Dalam kultur jaringa kita tidak bisa mengatakan metode Si A atau Si B yang paling baik. Karena dalam praktiknya, peneliti akan menemukan ‘gaya terbaik’ nya sendiri. Terpenting, latihan, latihan, dan latihan.

Hannah S. Fikria

Peneliti Kultur Jaringan